Hendrik Daniel Simatupang

Hendrik Daniel Simatupang

Selasa, 14 Desember 2010

KLB (Kejadian Luar Biasa)


KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) GIZI
1. Pengertian 
Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi, adalah ditemukannya balita, dengan tanda-tanda sebagai berikut:

Berat Badan menurut Umur (BB/U) dibawah standar (lihat tabel) atau Tanda-tanda marasmus atau kwasiorkor.

Pelacakan KLB Gizi, adalah kegiatan penelusuran secara langsung (investigasi) setiap Balita dengan tanda-tanda diatas untuk menentukan tindakan yang cepat dan tepat.


2. TUJUAN PELACAKAN
  • Menentukan besarnya masalah. 
  • Mencari penyebab. 
  • Menyusun tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat. 
3. SUMBER INFORMASI
  • Masyarakat, meliputi: Keluarga, Pengurus RT, Tokoh Masyarakat, praktek yankes swasta dll. 
  • Kader, meliputi ditemukan anak dengan 3 kali berat badan tidak naik (3T) dan bawah garis merah (BGM) dalam KMS 
  • Laporan dari petugas atau tempat Pelayanan Kesehatan, meliputi: Puskesmas, RS, Institusi Kesehatan lainnya.
    Pejabat atau petugas lintas sektor yang lain.
    Wartawan, LSM yang lain.
4. JALUR PENYAMPAIAN LAPORAN KLB GIZI 

Masyarakat menyampaikan laporan ke Puskesmas atau Kepala Desa/Lurah selanjutnya Kepala Desa/Lurah menyampaikan ke Puseksmas. 
Kader menyampaikan hasil penjaringan anak dengan 3 T dan BGM ke Puskesmas. Puskesmas melakukan konfirmasi terhadap laporan yang disampaikan masyarakat. 
Bila kondisi gizi buruk benar, segera dilakukan tindakan sesuai PEDOMAN TATA LAKSANA, dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan format W1 (laporan KLB 24 jam). 


Kejadian Luar Biasa Flu Burung di Desa Dangin Tukadaya

Desa Dangin Tukadaya disimulasikan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung oleh Bupati Jembrana I Gede Winasa setelah 15 orang warga desa itu terserang virus flu burung dan hasil rapid test pada unggas oleh Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Peternakan Kab. Jembrana positif flu burung. Selain itu berdasarkan laporan penyelidikan epidemiologi oleh TGC Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Dinkes dan Kesos) diduga telah terjadi penularan antar manusia secara terbatas (sinyal epidemiologi). Untuk menanggulangi KLB dan mencegah penularan ke wilayah yang lebih luas, Bupati I Gede Winasa menginstruksikan Kepala Dinkes dan Kesos Kab. Jembrana melakukan tindakan cepat penanggulangan. Demikian Simulasi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza hari pertama yang disampaikan Bupati Jembrana I Gede Winasa kepada para wartawan di Aula Jimbarwana Jembrana tanggal 25 April 2008 sore.
I Gede Winasa minta Kepala Dinkes dan Kesos untuk melaksanakan koordinasi dengan jajaran terkait guna mengambil tindakan sesuai peraturan yang berlaku. Membentuk Posko Penanggulangan Kabupaten dengan mengaktifkan Posko Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) dan membentuk Posko Penanggulangan Lapangan di Desa Dangin Tukadaya dibawah kendali Kepala Dinkes dan Kesos. Bupati Jembrana juga minta warga Dangin Tukadaya dan masyarakat Jembrana pada umumnya untuk tetap tenang dan waspada. Membatasi kegiatan keluar rumah dan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Warga juga diminta selalu mendengarkan informasi dari pemerintah melalui radio, televisi ataupun petugas dan mentaati segala perintah/informasi dan saransarannya untuk kebaikan dan keselamatan bersama, ujar I Gede Winasa.
Bupati I Gede Winasa yang pada kesempatan itu juga didampingi Kepala Dinkes dan Kesos dr. Putu Suasta juga minta jajaran media massa baik cetak maupun elektronik membantu penanggulangan KLB melalui pemberitaan yang proporsional dan menyejukkan. Kronologi Simulasi Simulasi hari pertama menggambarkan kejadian 9 – 11 November tahun 20xx. Tanggal 9 November 20xx pasien A yang sudah dinyatakan positif H5N1 meninggal dan dilakukan pemulasaraan jenazah. Hasil laboratorium PCR pasien B dan C dari lab Mikrobiologi FK Univ. Udayana, Badan Litbangkes dan Eijkman Jakarta keduanya dinyatakan positif H5N1. Puskesmas Dangin Tukadaya menerima 3 pasien (D, E, dan F) dari BanjarSebual (banjar yang sama dari 3 pasien terdahulu) Desa Dangin Tukadaya dengan gejala ILI (Influenza Like Ilness) diperiksa dan didiagnosa suspek flu burung dirujuk ke RS Tabanan.
Sementara RS Negara Kab. Jembrana juga menerima 2 pasien (G dan H) juga berasal dari banjar yang sama, dengan gejala ILI dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pasien G dan H didiagnosa suspek flu burung. Puskesmas Dangin Tukadaya dan RS Negara melapor ke Dinkes dan Kesos Jembrana dan RS Tabanan melapor ke Dinkes Kab. Tabanan. Selanjutnya melapor secara berjenjang ke Dinkes Provinsi Bali dan Posko FB Ditjen P2PL dan Ditjen Bina Yanmedik Depkes Jakarta. TGC Dinkes dan Kesos Kab. Jembrana kembali ke Desa Dangin Tukadaya untuk melanjutkan penyelidikan termasuk memantau semua kontak kasus, dan ditemukan bahwa D,E,F,G dan H merupakan kontak kasus B dan C. Sementara TGC Dinas Peternakan melakukan pemusnahan (depopulasi) unggas di banjarSebual. RS Tabanan melakukan isolasi di bangsal isolasi, penatalaksanaan kasus, mengambil spesimen dan dikirim ke lab Mikrobiologi FK Univ Udayana (Lab Influenza Regional Bali), Lab Badan Litbangkes dan Eijkman Jakarta. Direktur RS Tabanan melaporkan adanya tambahan kasus kepada Dinas Kesehatan dan Pemkab, Dinkes Provinsi, Posko FB Ditjen P2PL dan Ditjen Bina Yanmedik Depkes. Dinkes dan Kesos Jembrana melakukan rapat konsolidasi dan melaporkan kepada Bupati, Dinkes Prov. Bali, Posko FB Ditjen P2PL dan Ditjen Bina Yanmedik. Pada hari itu juga Bupati
Jembrana memanggil rapat seluruh jajaran terkait dan mengumumkan KLB serta menginstruksikan dilakukan tindakan cepat penanggulangan. Ditjen P2PL mengirim Tim Verifikasi Pusat untuk melakukan verifikasi sekaligus penilaian cepat (RHA/Rapid Health Assessment) ke Desa Dangin Tukadaya, Jembrana. Situasi tanggal 10 November. Tim verifikasi gabungan (pusat dan daerah) melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk verifikasi serta RHA. Hasil penyelidikan epidemiologi ditemukan lagi 10 kasus suspek yang merupakan kontak kasus sebelumnya dan dirujuk ke RS Tabanan.
Hasil laboratorium 5 pasien yang dirujuk ke RS Tabanan dari Puskesmas Tukadaya dan RS Negara positif FB. Situasi di desa Dangin Tukadaya menjadi resah, masyarakat bertanya-tanya dan ketakutan dengan banyaknya kasus. Tanggal 10 November sore tim verifikasi melakukan rapat dan menyimpulkan secara epidemiologi sudah terjadi penularan antar manusia (sinyal epidemiologi). Dirjen P2PL Depkes melaporkan kepada Menkes dan menginstruksikan penanggulangan dan dilakukan sekuensing pada spesimen.
Situasi pada tanggal 11 November, Bupati memanggil Kepala Dinkes dan Kesos beserta Tim
Verifikasi Gabungan dan lintas sektor terkait. Dokter X dan perawat Y yang memeriksa pasien di RS Tabanan menderita demam dan batuk sehingga dirawat di ruang isolasi. Hasil pemeriksaan Lab Mikrobiologi FK Univ.Udayana, Badan Litbangkes dan Eijkman menyatakan 10 kasus terakhir positif FB. Kemudian Menkes memutuskan untuk dilakukan penanggulangan cepat. 30 Apr 2008 Berdasarkan hasil sekuensing virus flu burung yang menyerang warga Dangin Tukadaya disimulasikan terbukti secara epidemiologi dan virologi telah terjadi penularan antar manusia (human to human). Mengingat dampaknya yang sangat luas yakni penularan yang cepat dan akan terjadi peningkatan angka kesakitan dan kematian, Bupati Jembrana I Gede Winasa menetapkan penutupan atau karantina wilayah di Desa Dangin Tukadaya. Selain itu, Bupati Jembrana minta seluruh jajaran yang bertugas agar :
Melaksanakan isolasi wilayah di desa Dangin Tukadaya sesuai peta epidemiologi penularan kasus dengan memasang pembatas atau barikade seperlunya.
Menyiapkan logistik bagi seluruh masyarakat dalam wilayah karantina termasuk kebutuhan makanan, kebutuhan penunjang dasar lainnya, pakan ternak, obat anti viral dan sarana pelayanan kesehatan di lokasi.
  Melaksanakan pemantauan intensif terhadap kesehatan dan keamanan masyarakat
 Memberikan informasi dan penjelasan kepada masyarakat tentang kondisi yang terjadi serta meminta masyarakat untuk tetap tenang.
Petugas pengawas karantina agar melakukan sleksi terhadap aktivitas orang dan kendaraan
    yang masuk atau keluar wilayah serta melakukan desinfeksi kendaraan
Penghentian kegiatan umum yang melibatkan banyak orang di wilayah karantina seperti
     sekolah, pasar, maupun upacara adat/agama.

Bupati Jembrana juga minta warga Dangin Tukadaya Tetap tenang di rumah masing-masing serta mentaati saran dan aturan yang diberikan oleh petugas. Tidak melakukan aktivitas keluar rumah apalagi keluar wilayah karantina dengan alasan apapun tanpa seijin petugas. Memberikan informasi dengan baik kepada petugas, ujar I Gede Winasa.
Demikian Simulasi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza hari kedua yang disampaikan Bupati Jembrana I Gede Winasa kepada para wartawan di Aula Jimbarwana Jembrana tanggal 26 April 2008 siang. I Gede Winasa minegaskan tindakan tersebut dilakukan sesuai UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah, UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP No. 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dan Perda Kabupaten Jembrana No. 2 Tahun 2006 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kab. Jembrana. Kronologi Simulasi Simulasi hari kedua menggambarkan kejadian 12 – 14 November tahun 20xx. Tanggal 12 November 20xx didapatkan hasil pemeriksaan Lab FK Univ Udaya, Badan Litbangkes dan Eijkman dr. X dan perawat Y yang merawat pasien FB positif H5N1. Setelah berkoordinasi dengan lintas sektor, Direktur RS Tabanan mengumumkan bahwa RS Tabanan diberlakukan keadaan darurat dan penutupan terbatas yakni hanya menerima pasien influenza saja dan semua orang yang berada di dalam rumah sakit tidak boleh keluar sampai batas waktu yang ditentukan.
Di Banjar Sebual, Desa Dangin Tukadaya ditemukan 3 kasus suspek influenza pada saat surveilans aktif dan dirujuk ke RS Tabanan. Sementara itu, Administrator Bandara Soekarno Hatta meningkatkan kewaspadaan terhadap penumpang dan petugas bandara. Tanggal 14 November 20xx hasil sekuensing laboratorim menunjukan terjadi mutasi H5N1
menjadi virus yang menular antar manusia (human to human). Dirjen P2PL Depkes selaku IHR focal point segera berkomunikasi dengan WHO. Kemudian Dirjen WHO berkonsultasi dengan pemerintah Indonesia dan mengundang komite emergency dan memutuskan perubahan fase pandemi dunia dari fase 3 menjadi fase 4 (di Indonesia memakai fase 4/5B). Pada hari itu juga Menteri Kesehatan RI melaporkan hasil itu kepada Presuden RI yang kemudian memerintahkan Menko Kesra selaku Ketua Komnas FBPI untuk melakukan koordinasi penanggulangan episenter di desa Dangin Tukadaya. Menkes melakukan Jumpa Pers dan menyatakan bahwa telah terjadi Episenter Pandemi Influenza di desa Dangin Tukadaya. Disampaikan pula perintah Presiden untuk melakukan upaya penanggulangan Episenter Pandemi Influenza.

Dangin Tukadaya Dicabut
30 Apr 2008
Setelah dua minggu sejak kasus Flu terakhir tidak diketemukan lagi kasus baru, dalam simulasi hari ketiga Bupati Jembrana I Gede Winasa menyatakan mencabut status karantina wilayah di Desa Dangin Tukadaya yang berarti KLB Episenter Influenza dapat diatasi secara tuntas. Jumlah korban yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan tetap 15 orang dan semuanya telah dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit. Namun demikian, Bupati Jembrana masih tetap memerintahkan petugas kesehatan baik tenaga lapangan, tenaga kesehatan Puskesmas, tenaga kesehatan rumah sakit dan Tim Gerak Cepat Penanggulangan Flu yang mematikan untuk tetap melaksanakan pemantauan terhadap kemungkinan adanya kasus baru baik di desa Dangin Tukadaya maupun di wilayah lainnya di Kab. Jembrana.
Demikian Simulasi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza hari ketiga yang disampaikan Bupati Jembrana I Gede Winasa kepada para wartawan di Aula Jimbarwana Jembrana tanggal 27 April 2008. Bupati Jembrana minta seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan tidak pergi ke tempattempat umum apabila tidak ada kepentingan serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Masyarakat juga diminta segera melapor atau datang ke tempat pelayanan kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan menyerupai influenza (ILI), ujar I Gede Winasa. Masyarakat juga diminta partisipasinya apabila menemukan kasus gangguan kesehatan menyerupai influenza (ILI) melaporkan langsung kepada Tim Gerak Cepat (TGC) Dinkes dan Kesos Jembrana melalui telp. 0365-41210-ext. 3306, 3314, 3315 atau melalui HP 08123614619. Bupati Jembrana pada kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada segenap komponen masyarakat , petugas dan media massa yang telah membantu pelaksanaan tugas penanggulangan episenter pandemi influenza di Desa Dangin Tukadaya hingga dapat diatasi secara tuntas. Sementara itu di Bandara Internasional Ngurah Rai dalam simulasi dilakukan pemeriksaan bagi penumpang yang akan meninggalkan Bali di 2 titik pemantauan yaitu Ring II sebelum masuk pintu bandara dan ring I sebelum point check in keberangkatan luar negeri. Petugas ring II memberikan penjelasan maksud dan tujuan melakukan pemantauan suhu tubuh penumpang dengan menggunakan thermal scanner yang dipasang di Ring I, pemberian dan penyeleksian Health Alert Card (HAC).
Dari screening suhu tubuh, ditemukan 2 orang WNA dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat
celcius yang satu minggu sebelumnya berkunjung ke daerah episenter. Selain itu ditemukan 1 orang calon penumpang WNI dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius, ada gejala batuk pilek, sakit tenggorokan dan tidak pernah berkunjung ke wilayah episenter. Calon penumpang ini dilakukan observasi di Poliklinik KKP. Dari hasil seleksi HAC ditemukan 3 calon penumpang WNA dengan suhu tubuh kurang dari 38 derajat celcius, dengan riwayat satu minggu sebelumnya berkunjung ke daerah episenter. Calon penumpang ini dibawa petugas karantina untuk dilakukan tindakan karantina di Asrama Karantina. Selain itu ditemukan 1 calon penumpang WNA dengan keluhan batuk, pilek dan sakit tenggorokan, satu minggu sebelumnya berkunjung ke wilayah episenter dibawa ke poliklinik. Dua WNA akhirnya dirujuk ke RS Sanglah karena kondisi penyakitnya memburuk, satu orang diantaranya tidak tertolong jiwanya. Kemudian dilakukan pemulasaraan jenazah sesuai
penanganan pasien penyakit flu burung. Kronologi Simulasi Simulasi hari ketiga menggambarkan kejadian 15 November-10 Desember tahun 20xx. Tanggal 15 November 20xx. Kepala Dinkes dan Kesos Jembrana yang bertindak melaksanakan koordinasi penanggulangan episenter pandemi influenza dengan jajaran terkait secara lintas sektor telah dapat mengatasi keadaan. Setelah dua minggu sejak kasus terakhir tidak diketemukan kasus baru, melaporkan kepada Bupati Jembara untuk mencabut status karantina wilayah Desa Dangin Tukadaya. Berdasarkan laporan itu, Bupati Jembrana mengumumkan kepada masyarakat bahwa kejadian luar biasa (KLB) episenter pandemi influenza di Desa Dangin Tukadaya dapat diatasi secara tuntas.
Sementara itu di Bandara Internasional Ngurah Rai, dilakukan rapat koordinasi dengan lintas sektor terkait di bandara dengan membentuk organisasi penanggulangan episenter pandemi Influenza di Bandara Ngurah Rai. Menyiapkan pos pemeriksaan di ring I dan Ring II, memasang thermo scaner di ring II. Memasang sceering counter untuk HAC di ring II, menyiapkan poliklinik lapangan di ring I. Menyiapkan Asrama Karantina di luar wilayah bandara. Menyiapkan satuan rujukan dan mobil evakuasi penyakit menular dan menyiapkan tim pelaksana disinfeksi. Merujuk pasien ke RSUP Sanglah.

Kamis, 11 November 2010

KEMATIAN IBU


Tahun berulang, Indonesia masih menuai prestasi di Asean sebagai pemegang angka kema­tian ibu tertinggi. Apa yang salah pada ibu melahirkan di negeri ini?

Zoelkifly gundah. Se­ba­gai seorang dokter, tak henti-hentinya ia menyesali kejadian sore itu. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ba­ru saja, seorang ibu menghembuskan nafasnya ketika menjalani kodratnya me­lahirkan seorang anak. Dengan tugas ma­ha penting itu, seharusnya keluarga lebih tanggap terhadap semua kemungkinan yang terjadi. Namun sayangnya, ibu itu baru dibawa ke rumah sakit, ketika telah mengalami pendarahan yang cukup pa­rah. Hb-nya sudah berada di kisaran tu­juh, ketika mulai ditangani. Operasi Cae­sar yang dilakukan akhirnya hanya mam­pu menyelamatkan bayi. Yang lebih memprihatinkan, keluarga enggan untuk membawanya ke rumah sakit dan ditangani dok­ter, adalah karena berfikir bahawa dana yang dikeluarkan akan besar. "Ha­nya karena biaya…." Tak henti-hentinya dokter yang berpraktek di Sawangan ter­sebut menghela nafas. 
Masalah di atas bukan hanya dialami oleh Dokter Zoelkifly. Kematian ibu me­la­hirkan masih menjadi persoalan yang cu­kup pelik di negeri ini. Tahun demi tahun masih panjang daftar wanita yang menjadi korban takdirnya. Dan, kita bukan se­dang mempersoalkan angka secara statistik, tapi kenyataan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih yang tertinggi di Asean. Data terakhir dari BPS adalah sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Sedangkan Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 me­nye­butkan angka kematian ibu di Ma­lay­sia jauh di bawah Indonesia yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thai­land 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada­hal, tahun 2000 itu angka kematian ibu ma­­sih berkisar di angka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang be­lum lama merdeka, yang memiliki angka ke­matian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup.

Pembuat kebijakan bukannya tidak me­­nyadari arti angka-angka tersebut. Apa­lagi, angka kematian ibu merupakan salah satu indikator derajat ke­sehatan se­buah Negara. Masalah ting­gi­nya angka kematian ibu telah lama diupayakan pemecahannya. Berbagai upaya dilaku­kan untuk menurunkan level ini. Na­mun sepertinya upaya yang keras itu, se­perti melempar bola ke dinding, karena kembali terpantul, meski dengan ketinggian yang se­dikit lebih rendah.
Seperti kasus yang dialami oleh Zoel­kifly, pendarahan menjadi penyebab uta­ma kematian ibu di negeri ini. Penyebab kedua adalah eklampsia lalu infeksi. Se­mua hal ini bertanggung jawab terhadap hampir 70 persen kematian ibu yang me­ru­pakan penyebab langsung. Aborsi tidak aman juga memberi porsi pada angka ke­matian ibu. Risiko kematian ibu me­la­hir­kan juga diperburuk dengan adanya pe­nya­kit yang mungkin diderita ibu hamil seperti tuberkulosis, HIV/AIDS, anemia, dan malaria. Laporan depkes mengata­kan, prevalensi anemia pada ibu hamil ma­sih sangat tinggi, yaitu 51 persen.
Ya, faktor-faktor di atas memang pe­nye­bab langsung kematian ibu mela­hir­kan. Tapi, seharusnya penyebab kemati­an dapat diminimalkan.

Perdarahan, memang umumnya terjadi secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksikan. Namun jika ibu cepat dibawa ke layanan fasilitas kesehatan, faktor risiko tersebut mungkin dapat ditanggulangi hingga kisah di atas mungkin tidak terjadi. Kematian akibat aborsi bisa ditekan, jika wanita memiliki cukup informasi tentang kontrasepsi dan perawatan pasca aborsi. Demikian juga dengan kasus ek­lamp­sia yang menyumbang 13 persen pe­nyebab kematian ibu melahirkan. An­te­na­tal care, yang memantau kondisi kehamilan ibu secara teratur seharusnya dapat memprediksi risiko yang mungkin timbul hingga dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan.

Pantauan kesehatan ibu semasa ke­ha­milan baik untuk keadaan normal mau­pun darurat serta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih memain­kan peran penting dalam menekan angka kematian ibu. Di manapun ibu melahir­kan, jika dilakukan oleh tenaga medis te­rampil dapat membantu mengenali ke­ga­wat­an medis dan membantu keluarga un­tuk mencari perawatan darurat.
Sayangnya, lagi-lagi tenaga me­dis dan proses kelahiran yang merupakan tahapan penting dalam kelang­sung­an spesies manusia seolah dibatasi oleh tembok tebal. Laporan WHO menga­takan, meski kunjungan antenatal pertama dapat menjangkau 90 persen dari ibu hamil, namun saat kelahiran tiba, hanya 60 persen yang dilakukan oleh tenaga terampil. Bahkan menurut survei Demografi dan Ke­sehatan Indonesia tahun 1997, se­ba­nyak 54 persen persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.

Faktor yang saling terkait
Tembok tebal antara tenaga medis dan proses kehamilan dan persalinan yang sehat disusun oleh berbagai faktor yang saling terkait mulai dari tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, kondisi geografis dan transportasi.
Pasien Zoelkifly, mungkin satu di an­ta­ra sekian contoh bagaimana ekonomi men­jadi biang keladi penyebab kematian ibu melahirkan di samping factor tingkat pendidikan dan minimnya pengetahuan akan kesehatan serta layanannya. Simak lagi data dari WHO tahun 2002. Pada wanita yang memiliki tingkat ekonomi le­bih tinggi, maka sebanyak 89,2 persen kelahiran ditolong oleh tenaga kesehat­an. Kondisi ini sangat timpang pada wanita dengan tingkat ekonomi rendah, yaitu hanya 21,3 persen.

Kondisi geografis yang sulit ditempuh dan masalah transportasi menjadi salah satu penyebab terlambatnya ibu menda­pat pertolongan. Menurut data BPS tahun 2002 menyebutkan bahwa Jakarta, sebagai kota metropolitan, memegang rekor tertinggi persalinan yang ditolong oleh te­naga kesehatan, yaitu sebesar 96 per­sen. Angka terendah oleh Sulawesi Teng­ga­ra yaitu 35 persen. Di daerah dengan kondisi geografis dan transportasi yang sulit, meski sudah ditangani oleh bidan, namun jika dalam proses kelahiran me­mer­lukan pertolongan darurat, maka kondisi tersebut akan memperlambat ibu me­la­hirkan mencapai fasilitas kesehatan. Point yang menentukan berhasil tidaknya upaya penyelamatan nyawa ibu.
Tak hanya kondisi geografis, budaya yang berlaku di masyarakat setempat cu­kup membuat tenaga terlatih sulit mela­ku­kan fungsinya. Alih-alih memilih bidan, ada sebagian golongan masyarakat me­mi­lih dukun bayi sebagai penolong kela­hir­an. "Meski ditempatkan bidan, tapi ma­­syarakatnya tidak mau meminta perto­long­an," ujar Dirjen Bina Kesehatan Ma­syarakat Departemen Kesehatan Dr. Sri Astuti Suparmanto, MSc.PH.

Kesehatan Ibu: Prioritas Depkes
Tak lelah untuk mengempiskan angka kematian ibu, tahun 2005 hingga 2009, pemerintah kembali menitikberatkan perhatian pada kesehatan ibu. Departemen kesehatan dalam periode tersebut me­nempatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas pertama pembangunan kesehatan. Sesu­dah­nya menyusul pelayanan kesehatan ba­gi masyarakat mis­kin, pendayagunaan tenaga kesehat­an, penanggulangan pe­nya­kit menular, gi­zi buruk, dan krisis ke­sehatan akibat bencana, serta pening­katan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, dae­rah perbatasan, dan pulau-pulau terluar. Program-program tersebut, sangat ber­kait­­an untuk me­ning­kat­kan kesehatan rak­­yat. "Masyarakat mis­kin berarti terma­suk juga ibu dan anak," kata Sri Astuti.

Realisasinya, Menteri Kesehatan Fa­dil­lah Supari mengatakan Program Asu­ran­si Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin) sejak tahun 2005 dan 2006 dapat mencakup 60 juta penduduk mis­kin dan hampir miskin, dibanding tahun 2005 yang hanya mencakup 36,1 juta penduduk miskin. Dan pada tahun 2007, telah men­cakup 76,4 juta masyarakat mis­kin. Masalah keterlambatan ibu mela­hir­kan dibawa ke fasilitas kesehatan ba­nyak karena alasan biaya. Kini, hal itu menjadi urusan pemerintah. "Di manapun me­lahirkan, entah di ru­mah, rumah sakit, akan dibayar (bia­ya­nya)," ujar Fa­dillah ke­pada Farmacia.
Puskesmas, sebagai gar­da terdepan fasilitas kesehatan di daerah, punya peranan penting. "Di pus­kes­mas su­dah bisa dilakukan life saving. Ber­arti pe­layanan untuk mendeteksi, menangani, dan me­mu­lihkan sudah berjalan," kata Sri Astuti.

Tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk me­nurunkan angka kemati­an. Pemerintah 'ngebut' untuk menambah tenaga ini. "Per­sa­linan kini semakin banyak ditolong oleh tenaga terlatih. Ta­hun 2002, persalinan yang dibantu tenaga terlatih adalah 68,4 persen. Data ta­hun 2005 meningkat men­jadi 76,69 per­sen," ujar Sri Astuti lagi.
Menjawab ketiadaan tenaga bidan di desa, tahun 2006 lalu telah ditempatkan 12.000 bidan, dan tahun 2007 sebanyak 30.000. Hingga akhir tahun 2008, ditargetkan ada 70.000 bidan ditempatkan di de­sa. Untuk dae­rah terpencil bidan di­be­ri­kan insentif yang lebih besar. "Untuk bi­dan di dae­rah terpencil, in­sentifnya Rp 2,5 juta," kata Sri.

Tidak dalam sekejap
Berbagai program tadi, setidak­nya mam­pu mengurangi jumlah wanita yang me­ninggal ke­ti­ka menjalani tak­dir­nya. Ang­ka ke­ma­tian ibu telah me­nurun, dari 390 per 100.000 kela­hiran hidup menurut Sur­vei De­mo­grafi dan Kesehatan In­do­nesia (SDKI) ta­hun 1994 menjadi 334 menurut SDKI ta­hun 1997, dan 307 me­nurut SDKI 2002-2003. Lalu tahun 2005 angka itu menurun menjadi 262, lalu 253 pada 2006.

Menurut Sri Astuti penurunan angka kematian ibu memiliki korelasi langsung dengan program-program yang dilakukan pemerintah. "Penurunan ini terjadi bukan tanpa sebab, tetapi karena kita sudah memperkuat sarana dan prasarana kesehatan," ujarnya.
Meskipun banyak anggapan bahwa ang­ka itu masih jauh dari harapan, terle­bih dengan prestasi Indonesia yang ma­sih tertinggi di Asean, Sri Astuti menanggapi hal itu mengatakan, "Ini bukan jeanny in the bottle." Maksudnya semua tidak terjadi dalam sekejap. Tetap diperlukan proses untuk mencapai hal yang ideal.
Maka, depkes pun pasang ancang-an­cang lagi. Tahun 2007 ini target angka kematian ibu turun menjadi 244 per 100.000 ke­lahiran hidup. Tahun 2008 menjadi 235 per kelahiran hidup. Hingga akhir tahun 2009 diharapkan angka ke­matian ibu mencapai 226 per 100.000 ke­lahiran hi­dup. Mampukah negeri ini men­capai bah­kan melampaui target ter­se­but? "Mu­dah-mudahan," ujar Sri Astuti.

Desa Siaga setidaknya menjadi tum­pu­an harapan untuk pembangunan kesehatan. "Nantinya semua desa ditargetkan menjadi desa siaga," kata Fadillah. "Kon­sep desa siaga diarahkan untuk men­sin­kronkan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat seperti posyandu, bidan de­sa, dan lain-lain agar lebih fokus, tepat sasaran, dan terpadu." Sebelumnya telah bergulir berbagai program seperti suami siaga dan bidan siaga. Fokus pengem­bang­an desa siaga diarahkan yang pertama untuk upaya penurunan angka kema­tian ibu dan bayi. Data tahun 2006 me­nye­butkan telah terdapat 12.942 desa siaga dari 12.000 yang ditargetkan.
Depkes mengaku tidak bisa berdiri sen­­diri dalam mewujudkan masyarakat se­hat. Dibu­tuh­kan kemitraan dengan ber­bagai komponen bangsa. "Peran antro­po­log, misalnya diperlukan untuk mengatasi hambatan bu­daya," kata Sri Astuti.

Next Challenge: Desentralisasi
Desentralisasi di bidang kesehatan akan menjadi tantangan pen­ting dalam pem­bangunan ksehatan. Laporan Bape­nas mengatakan bah­wa perubahan dan tanggung jawab pemerintah pusat dan dae­rah belum secara jelas terdefinisikan dan dipahami. Dengan penganggaran yang juga didesentralisasikan, daerah de­ngan kemampuan keuangan yang rendah akan mengalami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran ke­sehatannya karena harus pula memperhatikan prioritas-prio­ri­tas pembangunan lain.

Ada cerita menarik dari rapat kerja menteri kesehatan dengan komisi IX DPR tanggal 4 Juni 2007 lalu.  Menkes Fa­dil­lah Supari mengatakan, ketika berkunjung ke daerah di luar Jawa, pemerintah daerahnya berencana memindahkan RSUD ke dae­rah yang letaknya agak pinggiran. Pa­da­hal, cukup banyak pasien yang dilayani ru­mah sakit tersebut. Fa­dillah meminta de­ngan sangat kepada ke­pala daerah yang bersangkutan agar ti­dak jadi melaksana­kan rencananya. Me­nu­rutnya, jika me­mang ingin membangun rumah sakit baru, biarkan ru­mah sakit yang lama tetap berdiri.  

Terimakasih.

LAHIR MATI

Pengenalan ?
Lahir mati membawa maksud kematian janin di antara minggu ke 20 kehamilan (bulan ke 5) sehingga kelahiran.
Penerangan
Walaupun keadaan ini jarang berlaku, ia masih merupakan satu pengalaman perit untuk dilalui oleh ibubapa.
Penyebab ?
Kecacatan kelahiran - biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan kromosom.
Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.
Masalah uri (plasenta)
o Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat hidup sekiranya uri telah terpisah dari tempat implantasinya.
o Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan ini tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.
Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan seperti ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.
Masalah pada tali pusat
o tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan juga nutrien kepada bay
o tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah
Tiada punca yang dapat dikenalpasti (merupakan separuh dari kes lahir mati) tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh jangkitan.

Faktor - faktor risiko ?
Berikut merupakan faktor yang telah dikenalpasti boleh meningkatkan risiko lahir mati:
Merokok
Pengambilan alkohol yang berlebihan
Penyalahgunaan dadah seperti heroin dan kokain
Obesiti/kegemukan
Pernah mengalami kejadian lahir mati
Wanita yang mengalami beberapa masalah kesihatan seperti diabetes, (terutamanya yang tidak terkawal) atau tekanan darah tinggi yang kronik (tekanan darah tinggi dan praeklampsia)
Wanita yang telah berusia (pertengahan 30an dan lebih) - adalah lebih mudah untuk mengalami masalah kesihatan yang lain dan juga masalah pada uri
Mengandung ketika remaja - lebih cenderong untuk mendapat masalah uri dan juga tekanan darah tinggi
Jangkitan bakteria dan virus di kalangan ibu

Insidens ?
Kadar kejadian lahir mati ialah 1 bagi setiap 200 kehamilan.

Tanda-tanda dan gejala ?
Biasanya tidak ada gejala atau simptom yang khusus atau pun sebarang amaran terhadap kejadian lahir mati. Walau bagaimanapun, sekiranya tanda-tanda atau gejala-gejala berikut berlaku, segeralah berjumpa doktor ataupun bidan yang terlatih:
Pendarahan dari faraj - mungkin menjadi petanda kepada satu masalah yang lebih serius.
Kurang atau tiada pergerakan janin
Perubahan pada aktiviti atau pergerakan biasa bayi.
Sakit pinggang (bahagian pelvis), belakang dan juga bahagian bawah abdomen - terasa menyucuk-nyucuk
Tidak lagi terasa seperti sedang hamil dan anda dapat merasakan beberapa perubahan fizikal seperti payu dara menjadi semakin kecil.
Ujian - ujian ?
Kematian janin boleh dijangkakan apabila si ibu tidak lagi terasa pergerakan bayi dalam kandungannya dan doktor juga sudah tidak lagi mendengar denyutan jantung janin.
Jika doktor mengesyaki lahir mati berlaku ketika bersalin, pemantauan dalaman ke atas janin akan dijalankan
Ultrasound perlu digunakan bila perlu untuk mengesahkan diagnosis
Autopsiialah satu langkah penting untuk mengesan sebab kematian janin.
Ujian darah dilakukan untuk mengesan diabetes dan juga lain-lain jangkitan

Pengurusan
Sebaik sahaja janin dalam kandungan disahkan mati, tindakan berikut perlu dilakukan:
Tunggu sehingga proses kelahiran berlaku secara normal; biasanya dalam masa 1 ke 2 minggu selepas kematian janin
Mencetus kelahiran - kebanyakan bayi yang lahir mati boleh dilahirkan secara normal selepas kelahiran diaruhkan, melainkan ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan pembedahan Caesarean dilakukan
Menjalankan pembedahan Caesarean

Selepas kelahiran
Selepas lahir mati, sama seperti kelahiran biasa, anda mungkin akan mengalami pembengkakan payu dara, ketidakselesaan akibat pembedahan episiotomi (bahagian perineum dan faraj digunting untuk memudahkan proses kelahiran), tekanan perasaan /stres selepas bersalin dan juga masalah-masalah yang dialami selepas kelahiran. Gabungan pelbagai masalah fizikal dan juga emosi ini mungkin dirasakan terlalu berat untuk ditanggung oleh ibu. Oleh itu, sokongan sosial dari keluarga dan rakan-rakan adalah sangat penting.
Rasa bersalah ialah satu reaksi yang normal bagi mereka yang mengalami kejadian lahir mati ini. Sematkan dalam fikiran anda, bahawa lahir mati jarang sekali berpunca dari perlakuan anda. Adalah satu perkara yang normal untuk merasa kesal, marah dan juga keliru dengan apa yang telah berlaku.
Berjumpalah kaunselor atau menyertai kumpulan sokongan,mungkin mereka dapat membantu mengurangkan tekanan yang dialami.
Bawa berbincang dengan jururawat atau doktor anda untuk mengatasi kekusutan yang dialami sebelum anda keluar dari hospital.
Pencegahan ?
Lazimnya, lahir mati berlaku tanpa sebarang amaran, tetapi kadang-kala ia boleh dijangka dan dielakkan
Penilaian ke atas janin dijalankan pada ibu-ibu yang berisiko tinggi terhadap masalah lahir mati - seperti ibu-ibu yang mempunyai masalah kesihatan (yang ada diabetes dan tekanan darah tinggi) terutama pada minggu terakhir kehamilan. Sekiranya semasa penilaian janin tersebut terdapatnya penemuan yang luar biasa, maka usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mengelakkan kejadian lahir mati.
Bagi sesetengah kes terpecah uri atau abrubsi plasenta (placenta abrubtion), pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
Carta pergerakan janin digunakan oleh para doktor untuk menjejak pergerakan janin dilakukan beberapa kali dalam sehari, terutamanya selepas minggu ke 26 kehamilan. Sekiranya bayi itu kurang menendang atau bergerak dari biasa, penilaian lanjutan ke atas janin perlu dijalankan. Bagi sesetengah kes, sekiranya doktor dapati ada keabnormalan yang berlaku, maka aruhan kelahiran dengan menjalankan pembedahan Ceasarean mungkin dapat menyelamatkan keadaan.
Jaga kesihatan diri anda dengan baik sebelum mengandung. Setelah mengandung, dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sihat. Doktor akan menjalankan ujian saringan bagi mengesan sebarang jangkitan. Di samping itu, beliau akan mengkaji rekod kesihatan dan memastikan sebarang keadaan yang serius atau kronik telah dirawat dengan sewajarnya.

Langkah-langkah berikut dapat membantu anda menikmati satu kehamilan yang sihat
Bersenam dan, amalkan pemakanan yang baik dan ambillah 400mg (mikrogram) asid folik setiap hari
Elakkan pengambilan alkohol, merokok atau ubat-ubatan kecuali yang diberikan oleh doktor anda.
Jauhkan diri dari racun serangga

Segera hubungi doktor sekiranya :
Anda hamil dan mengalami pendarahan, kesakitan atau kekejangan pada bahagian pinggang atau pelvis, belakang dan juga bahagian bawah abdomen.
Anda dapati janin anda tidak begerak dengan aktif seperti sepatutnya.