Hendrik Daniel Simatupang

Hendrik Daniel Simatupang

Kamis, 11 November 2010

KEMATIAN IBU


Tahun berulang, Indonesia masih menuai prestasi di Asean sebagai pemegang angka kema­tian ibu tertinggi. Apa yang salah pada ibu melahirkan di negeri ini?

Zoelkifly gundah. Se­ba­gai seorang dokter, tak henti-hentinya ia menyesali kejadian sore itu. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ba­ru saja, seorang ibu menghembuskan nafasnya ketika menjalani kodratnya me­lahirkan seorang anak. Dengan tugas ma­ha penting itu, seharusnya keluarga lebih tanggap terhadap semua kemungkinan yang terjadi. Namun sayangnya, ibu itu baru dibawa ke rumah sakit, ketika telah mengalami pendarahan yang cukup pa­rah. Hb-nya sudah berada di kisaran tu­juh, ketika mulai ditangani. Operasi Cae­sar yang dilakukan akhirnya hanya mam­pu menyelamatkan bayi. Yang lebih memprihatinkan, keluarga enggan untuk membawanya ke rumah sakit dan ditangani dok­ter, adalah karena berfikir bahawa dana yang dikeluarkan akan besar. "Ha­nya karena biaya…." Tak henti-hentinya dokter yang berpraktek di Sawangan ter­sebut menghela nafas. 
Masalah di atas bukan hanya dialami oleh Dokter Zoelkifly. Kematian ibu me­la­hirkan masih menjadi persoalan yang cu­kup pelik di negeri ini. Tahun demi tahun masih panjang daftar wanita yang menjadi korban takdirnya. Dan, kita bukan se­dang mempersoalkan angka secara statistik, tapi kenyataan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih yang tertinggi di Asean. Data terakhir dari BPS adalah sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Sedangkan Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 me­nye­butkan angka kematian ibu di Ma­lay­sia jauh di bawah Indonesia yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thai­land 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada­hal, tahun 2000 itu angka kematian ibu ma­­sih berkisar di angka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang be­lum lama merdeka, yang memiliki angka ke­matian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup.

Pembuat kebijakan bukannya tidak me­­nyadari arti angka-angka tersebut. Apa­lagi, angka kematian ibu merupakan salah satu indikator derajat ke­sehatan se­buah Negara. Masalah ting­gi­nya angka kematian ibu telah lama diupayakan pemecahannya. Berbagai upaya dilaku­kan untuk menurunkan level ini. Na­mun sepertinya upaya yang keras itu, se­perti melempar bola ke dinding, karena kembali terpantul, meski dengan ketinggian yang se­dikit lebih rendah.
Seperti kasus yang dialami oleh Zoel­kifly, pendarahan menjadi penyebab uta­ma kematian ibu di negeri ini. Penyebab kedua adalah eklampsia lalu infeksi. Se­mua hal ini bertanggung jawab terhadap hampir 70 persen kematian ibu yang me­ru­pakan penyebab langsung. Aborsi tidak aman juga memberi porsi pada angka ke­matian ibu. Risiko kematian ibu me­la­hir­kan juga diperburuk dengan adanya pe­nya­kit yang mungkin diderita ibu hamil seperti tuberkulosis, HIV/AIDS, anemia, dan malaria. Laporan depkes mengata­kan, prevalensi anemia pada ibu hamil ma­sih sangat tinggi, yaitu 51 persen.
Ya, faktor-faktor di atas memang pe­nye­bab langsung kematian ibu mela­hir­kan. Tapi, seharusnya penyebab kemati­an dapat diminimalkan.

Perdarahan, memang umumnya terjadi secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksikan. Namun jika ibu cepat dibawa ke layanan fasilitas kesehatan, faktor risiko tersebut mungkin dapat ditanggulangi hingga kisah di atas mungkin tidak terjadi. Kematian akibat aborsi bisa ditekan, jika wanita memiliki cukup informasi tentang kontrasepsi dan perawatan pasca aborsi. Demikian juga dengan kasus ek­lamp­sia yang menyumbang 13 persen pe­nyebab kematian ibu melahirkan. An­te­na­tal care, yang memantau kondisi kehamilan ibu secara teratur seharusnya dapat memprediksi risiko yang mungkin timbul hingga dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan.

Pantauan kesehatan ibu semasa ke­ha­milan baik untuk keadaan normal mau­pun darurat serta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih memain­kan peran penting dalam menekan angka kematian ibu. Di manapun ibu melahir­kan, jika dilakukan oleh tenaga medis te­rampil dapat membantu mengenali ke­ga­wat­an medis dan membantu keluarga un­tuk mencari perawatan darurat.
Sayangnya, lagi-lagi tenaga me­dis dan proses kelahiran yang merupakan tahapan penting dalam kelang­sung­an spesies manusia seolah dibatasi oleh tembok tebal. Laporan WHO menga­takan, meski kunjungan antenatal pertama dapat menjangkau 90 persen dari ibu hamil, namun saat kelahiran tiba, hanya 60 persen yang dilakukan oleh tenaga terampil. Bahkan menurut survei Demografi dan Ke­sehatan Indonesia tahun 1997, se­ba­nyak 54 persen persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.

Faktor yang saling terkait
Tembok tebal antara tenaga medis dan proses kehamilan dan persalinan yang sehat disusun oleh berbagai faktor yang saling terkait mulai dari tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, kondisi geografis dan transportasi.
Pasien Zoelkifly, mungkin satu di an­ta­ra sekian contoh bagaimana ekonomi men­jadi biang keladi penyebab kematian ibu melahirkan di samping factor tingkat pendidikan dan minimnya pengetahuan akan kesehatan serta layanannya. Simak lagi data dari WHO tahun 2002. Pada wanita yang memiliki tingkat ekonomi le­bih tinggi, maka sebanyak 89,2 persen kelahiran ditolong oleh tenaga kesehat­an. Kondisi ini sangat timpang pada wanita dengan tingkat ekonomi rendah, yaitu hanya 21,3 persen.

Kondisi geografis yang sulit ditempuh dan masalah transportasi menjadi salah satu penyebab terlambatnya ibu menda­pat pertolongan. Menurut data BPS tahun 2002 menyebutkan bahwa Jakarta, sebagai kota metropolitan, memegang rekor tertinggi persalinan yang ditolong oleh te­naga kesehatan, yaitu sebesar 96 per­sen. Angka terendah oleh Sulawesi Teng­ga­ra yaitu 35 persen. Di daerah dengan kondisi geografis dan transportasi yang sulit, meski sudah ditangani oleh bidan, namun jika dalam proses kelahiran me­mer­lukan pertolongan darurat, maka kondisi tersebut akan memperlambat ibu me­la­hirkan mencapai fasilitas kesehatan. Point yang menentukan berhasil tidaknya upaya penyelamatan nyawa ibu.
Tak hanya kondisi geografis, budaya yang berlaku di masyarakat setempat cu­kup membuat tenaga terlatih sulit mela­ku­kan fungsinya. Alih-alih memilih bidan, ada sebagian golongan masyarakat me­mi­lih dukun bayi sebagai penolong kela­hir­an. "Meski ditempatkan bidan, tapi ma­­syarakatnya tidak mau meminta perto­long­an," ujar Dirjen Bina Kesehatan Ma­syarakat Departemen Kesehatan Dr. Sri Astuti Suparmanto, MSc.PH.

Kesehatan Ibu: Prioritas Depkes
Tak lelah untuk mengempiskan angka kematian ibu, tahun 2005 hingga 2009, pemerintah kembali menitikberatkan perhatian pada kesehatan ibu. Departemen kesehatan dalam periode tersebut me­nempatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas pertama pembangunan kesehatan. Sesu­dah­nya menyusul pelayanan kesehatan ba­gi masyarakat mis­kin, pendayagunaan tenaga kesehat­an, penanggulangan pe­nya­kit menular, gi­zi buruk, dan krisis ke­sehatan akibat bencana, serta pening­katan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, dae­rah perbatasan, dan pulau-pulau terluar. Program-program tersebut, sangat ber­kait­­an untuk me­ning­kat­kan kesehatan rak­­yat. "Masyarakat mis­kin berarti terma­suk juga ibu dan anak," kata Sri Astuti.

Realisasinya, Menteri Kesehatan Fa­dil­lah Supari mengatakan Program Asu­ran­si Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin) sejak tahun 2005 dan 2006 dapat mencakup 60 juta penduduk mis­kin dan hampir miskin, dibanding tahun 2005 yang hanya mencakup 36,1 juta penduduk miskin. Dan pada tahun 2007, telah men­cakup 76,4 juta masyarakat mis­kin. Masalah keterlambatan ibu mela­hir­kan dibawa ke fasilitas kesehatan ba­nyak karena alasan biaya. Kini, hal itu menjadi urusan pemerintah. "Di manapun me­lahirkan, entah di ru­mah, rumah sakit, akan dibayar (bia­ya­nya)," ujar Fa­dillah ke­pada Farmacia.
Puskesmas, sebagai gar­da terdepan fasilitas kesehatan di daerah, punya peranan penting. "Di pus­kes­mas su­dah bisa dilakukan life saving. Ber­arti pe­layanan untuk mendeteksi, menangani, dan me­mu­lihkan sudah berjalan," kata Sri Astuti.

Tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk me­nurunkan angka kemati­an. Pemerintah 'ngebut' untuk menambah tenaga ini. "Per­sa­linan kini semakin banyak ditolong oleh tenaga terlatih. Ta­hun 2002, persalinan yang dibantu tenaga terlatih adalah 68,4 persen. Data ta­hun 2005 meningkat men­jadi 76,69 per­sen," ujar Sri Astuti lagi.
Menjawab ketiadaan tenaga bidan di desa, tahun 2006 lalu telah ditempatkan 12.000 bidan, dan tahun 2007 sebanyak 30.000. Hingga akhir tahun 2008, ditargetkan ada 70.000 bidan ditempatkan di de­sa. Untuk dae­rah terpencil bidan di­be­ri­kan insentif yang lebih besar. "Untuk bi­dan di dae­rah terpencil, in­sentifnya Rp 2,5 juta," kata Sri.

Tidak dalam sekejap
Berbagai program tadi, setidak­nya mam­pu mengurangi jumlah wanita yang me­ninggal ke­ti­ka menjalani tak­dir­nya. Ang­ka ke­ma­tian ibu telah me­nurun, dari 390 per 100.000 kela­hiran hidup menurut Sur­vei De­mo­grafi dan Kesehatan In­do­nesia (SDKI) ta­hun 1994 menjadi 334 menurut SDKI ta­hun 1997, dan 307 me­nurut SDKI 2002-2003. Lalu tahun 2005 angka itu menurun menjadi 262, lalu 253 pada 2006.

Menurut Sri Astuti penurunan angka kematian ibu memiliki korelasi langsung dengan program-program yang dilakukan pemerintah. "Penurunan ini terjadi bukan tanpa sebab, tetapi karena kita sudah memperkuat sarana dan prasarana kesehatan," ujarnya.
Meskipun banyak anggapan bahwa ang­ka itu masih jauh dari harapan, terle­bih dengan prestasi Indonesia yang ma­sih tertinggi di Asean, Sri Astuti menanggapi hal itu mengatakan, "Ini bukan jeanny in the bottle." Maksudnya semua tidak terjadi dalam sekejap. Tetap diperlukan proses untuk mencapai hal yang ideal.
Maka, depkes pun pasang ancang-an­cang lagi. Tahun 2007 ini target angka kematian ibu turun menjadi 244 per 100.000 ke­lahiran hidup. Tahun 2008 menjadi 235 per kelahiran hidup. Hingga akhir tahun 2009 diharapkan angka ke­matian ibu mencapai 226 per 100.000 ke­lahiran hi­dup. Mampukah negeri ini men­capai bah­kan melampaui target ter­se­but? "Mu­dah-mudahan," ujar Sri Astuti.

Desa Siaga setidaknya menjadi tum­pu­an harapan untuk pembangunan kesehatan. "Nantinya semua desa ditargetkan menjadi desa siaga," kata Fadillah. "Kon­sep desa siaga diarahkan untuk men­sin­kronkan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat seperti posyandu, bidan de­sa, dan lain-lain agar lebih fokus, tepat sasaran, dan terpadu." Sebelumnya telah bergulir berbagai program seperti suami siaga dan bidan siaga. Fokus pengem­bang­an desa siaga diarahkan yang pertama untuk upaya penurunan angka kema­tian ibu dan bayi. Data tahun 2006 me­nye­butkan telah terdapat 12.942 desa siaga dari 12.000 yang ditargetkan.
Depkes mengaku tidak bisa berdiri sen­­diri dalam mewujudkan masyarakat se­hat. Dibu­tuh­kan kemitraan dengan ber­bagai komponen bangsa. "Peran antro­po­log, misalnya diperlukan untuk mengatasi hambatan bu­daya," kata Sri Astuti.

Next Challenge: Desentralisasi
Desentralisasi di bidang kesehatan akan menjadi tantangan pen­ting dalam pem­bangunan ksehatan. Laporan Bape­nas mengatakan bah­wa perubahan dan tanggung jawab pemerintah pusat dan dae­rah belum secara jelas terdefinisikan dan dipahami. Dengan penganggaran yang juga didesentralisasikan, daerah de­ngan kemampuan keuangan yang rendah akan mengalami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran ke­sehatannya karena harus pula memperhatikan prioritas-prio­ri­tas pembangunan lain.

Ada cerita menarik dari rapat kerja menteri kesehatan dengan komisi IX DPR tanggal 4 Juni 2007 lalu.  Menkes Fa­dil­lah Supari mengatakan, ketika berkunjung ke daerah di luar Jawa, pemerintah daerahnya berencana memindahkan RSUD ke dae­rah yang letaknya agak pinggiran. Pa­da­hal, cukup banyak pasien yang dilayani ru­mah sakit tersebut. Fa­dillah meminta de­ngan sangat kepada ke­pala daerah yang bersangkutan agar ti­dak jadi melaksana­kan rencananya. Me­nu­rutnya, jika me­mang ingin membangun rumah sakit baru, biarkan ru­mah sakit yang lama tetap berdiri.  

Terimakasih.

LAHIR MATI

Pengenalan ?
Lahir mati membawa maksud kematian janin di antara minggu ke 20 kehamilan (bulan ke 5) sehingga kelahiran.
Penerangan
Walaupun keadaan ini jarang berlaku, ia masih merupakan satu pengalaman perit untuk dilalui oleh ibubapa.
Penyebab ?
Kecacatan kelahiran - biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan kromosom.
Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.
Masalah uri (plasenta)
o Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat hidup sekiranya uri telah terpisah dari tempat implantasinya.
o Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan ini tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.
Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan seperti ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.
Masalah pada tali pusat
o tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan juga nutrien kepada bay
o tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah
Tiada punca yang dapat dikenalpasti (merupakan separuh dari kes lahir mati) tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh jangkitan.

Faktor - faktor risiko ?
Berikut merupakan faktor yang telah dikenalpasti boleh meningkatkan risiko lahir mati:
Merokok
Pengambilan alkohol yang berlebihan
Penyalahgunaan dadah seperti heroin dan kokain
Obesiti/kegemukan
Pernah mengalami kejadian lahir mati
Wanita yang mengalami beberapa masalah kesihatan seperti diabetes, (terutamanya yang tidak terkawal) atau tekanan darah tinggi yang kronik (tekanan darah tinggi dan praeklampsia)
Wanita yang telah berusia (pertengahan 30an dan lebih) - adalah lebih mudah untuk mengalami masalah kesihatan yang lain dan juga masalah pada uri
Mengandung ketika remaja - lebih cenderong untuk mendapat masalah uri dan juga tekanan darah tinggi
Jangkitan bakteria dan virus di kalangan ibu

Insidens ?
Kadar kejadian lahir mati ialah 1 bagi setiap 200 kehamilan.

Tanda-tanda dan gejala ?
Biasanya tidak ada gejala atau simptom yang khusus atau pun sebarang amaran terhadap kejadian lahir mati. Walau bagaimanapun, sekiranya tanda-tanda atau gejala-gejala berikut berlaku, segeralah berjumpa doktor ataupun bidan yang terlatih:
Pendarahan dari faraj - mungkin menjadi petanda kepada satu masalah yang lebih serius.
Kurang atau tiada pergerakan janin
Perubahan pada aktiviti atau pergerakan biasa bayi.
Sakit pinggang (bahagian pelvis), belakang dan juga bahagian bawah abdomen - terasa menyucuk-nyucuk
Tidak lagi terasa seperti sedang hamil dan anda dapat merasakan beberapa perubahan fizikal seperti payu dara menjadi semakin kecil.
Ujian - ujian ?
Kematian janin boleh dijangkakan apabila si ibu tidak lagi terasa pergerakan bayi dalam kandungannya dan doktor juga sudah tidak lagi mendengar denyutan jantung janin.
Jika doktor mengesyaki lahir mati berlaku ketika bersalin, pemantauan dalaman ke atas janin akan dijalankan
Ultrasound perlu digunakan bila perlu untuk mengesahkan diagnosis
Autopsiialah satu langkah penting untuk mengesan sebab kematian janin.
Ujian darah dilakukan untuk mengesan diabetes dan juga lain-lain jangkitan

Pengurusan
Sebaik sahaja janin dalam kandungan disahkan mati, tindakan berikut perlu dilakukan:
Tunggu sehingga proses kelahiran berlaku secara normal; biasanya dalam masa 1 ke 2 minggu selepas kematian janin
Mencetus kelahiran - kebanyakan bayi yang lahir mati boleh dilahirkan secara normal selepas kelahiran diaruhkan, melainkan ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan pembedahan Caesarean dilakukan
Menjalankan pembedahan Caesarean

Selepas kelahiran
Selepas lahir mati, sama seperti kelahiran biasa, anda mungkin akan mengalami pembengkakan payu dara, ketidakselesaan akibat pembedahan episiotomi (bahagian perineum dan faraj digunting untuk memudahkan proses kelahiran), tekanan perasaan /stres selepas bersalin dan juga masalah-masalah yang dialami selepas kelahiran. Gabungan pelbagai masalah fizikal dan juga emosi ini mungkin dirasakan terlalu berat untuk ditanggung oleh ibu. Oleh itu, sokongan sosial dari keluarga dan rakan-rakan adalah sangat penting.
Rasa bersalah ialah satu reaksi yang normal bagi mereka yang mengalami kejadian lahir mati ini. Sematkan dalam fikiran anda, bahawa lahir mati jarang sekali berpunca dari perlakuan anda. Adalah satu perkara yang normal untuk merasa kesal, marah dan juga keliru dengan apa yang telah berlaku.
Berjumpalah kaunselor atau menyertai kumpulan sokongan,mungkin mereka dapat membantu mengurangkan tekanan yang dialami.
Bawa berbincang dengan jururawat atau doktor anda untuk mengatasi kekusutan yang dialami sebelum anda keluar dari hospital.
Pencegahan ?
Lazimnya, lahir mati berlaku tanpa sebarang amaran, tetapi kadang-kala ia boleh dijangka dan dielakkan
Penilaian ke atas janin dijalankan pada ibu-ibu yang berisiko tinggi terhadap masalah lahir mati - seperti ibu-ibu yang mempunyai masalah kesihatan (yang ada diabetes dan tekanan darah tinggi) terutama pada minggu terakhir kehamilan. Sekiranya semasa penilaian janin tersebut terdapatnya penemuan yang luar biasa, maka usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mengelakkan kejadian lahir mati.
Bagi sesetengah kes terpecah uri atau abrubsi plasenta (placenta abrubtion), pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
Carta pergerakan janin digunakan oleh para doktor untuk menjejak pergerakan janin dilakukan beberapa kali dalam sehari, terutamanya selepas minggu ke 26 kehamilan. Sekiranya bayi itu kurang menendang atau bergerak dari biasa, penilaian lanjutan ke atas janin perlu dijalankan. Bagi sesetengah kes, sekiranya doktor dapati ada keabnormalan yang berlaku, maka aruhan kelahiran dengan menjalankan pembedahan Ceasarean mungkin dapat menyelamatkan keadaan.
Jaga kesihatan diri anda dengan baik sebelum mengandung. Setelah mengandung, dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sihat. Doktor akan menjalankan ujian saringan bagi mengesan sebarang jangkitan. Di samping itu, beliau akan mengkaji rekod kesihatan dan memastikan sebarang keadaan yang serius atau kronik telah dirawat dengan sewajarnya.

Langkah-langkah berikut dapat membantu anda menikmati satu kehamilan yang sihat
Bersenam dan, amalkan pemakanan yang baik dan ambillah 400mg (mikrogram) asid folik setiap hari
Elakkan pengambilan alkohol, merokok atau ubat-ubatan kecuali yang diberikan oleh doktor anda.
Jauhkan diri dari racun serangga

Segera hubungi doktor sekiranya :
Anda hamil dan mengalami pendarahan, kesakitan atau kekejangan pada bahagian pinggang atau pelvis, belakang dan juga bahagian bawah abdomen.
Anda dapati janin anda tidak begerak dengan aktif seperti sepatutnya.

CAMPAK


PENDAHULUAN
Campak merupakan penyakit menular akut dari saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus, dan ditandai dengan 3 stadium, yaitu : stadium prodromal, stadium erupsi, dan stadium konvalesens. Campak merupakan penyakit dengan insidensi yang tinggi pada anak dapat berakibat serius bahkan fatal, serta ditemukan endemis di sebagian besar dunia. Penyakit ini menular dengan cepat pada populasi yang belum memiliki imunitas terhadap campak. Pada tahun 1970, terjadi wabah campak di pulau Lombok (dilaporkan 330 kematian di antara 12.107 kasus) dan pulau Bangka (65 kematian di antara 407 kasus). Kematian pada penyakit campak biasanya diakibatkan oleh komplikasi, seperti pneumonia dan ensefalitis. Sampai sekarang wabah dan kejadian luar biasa campak masih sering terjadi di beberapa daerah dengan angka kesakitan dan angka kematian cukup tinggi. Cara yang paling efektif untuk mencegah dan memberantas penyakit campak adalah melalui vaksinasi, yang merupakan kendala di beberapa daerah terutama pedesaan dimana akses pelayanan kesehatan, khususnya program imunisasi masih terbatas. 

DEFINISI
Campak merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dan secara khas terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium prodromal, erupsi, dan konvalesens2.
Penyakit ini umumnya menyerang anak dan sangat mudah menular. Seseorang yang menderita campak dapat menularkan pada 90% orang yang belum mendapat imunisasi apabila kontak dengannya3. Manusia merupakan satu-satunya reservoir untuk campak. Oleh karena itu penyakit ini sebenarnya dapat dieradikasi, sebagaimana smallpox.
Campak (measles, Ing.) disebut juga rubeola ( nama ilmiah ). Nama lainnya yaitu : hard measles, red measles, seven-day measles, eight-day measles, nine-day measles, 10-day measles, dan morbili. Penyakit ini sering salah diartikan dengan rubella, yang merupakan nama ilmiah dari campak German, yang disebabkan oleh virus yang berbeda.


ETIOLOGI
Campak disebabkan oleh Morbilivirus, salah satu virus RNA dari famili Paramyxoviridae1.
1. Bentuk Virus
Virus berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris tengah 140 nm dan dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan struktur heliks nukleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.
2. Ketahanan Virus
Pada temperatur kamar virus campak kehilangan 60% sifat infeksifitasnya selama 3-5 hari, pada 37°C waktu paruh umurnya 2 jam, pada 56°C hanya satu jam. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -70°C selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4-6°C dapat hidup selama 5 bulan. Virus tidak aktif pada PH asam. Oleh karena selubung luarnya terdiri dari lemak maka ia termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile, pada suhu kamar dapat mati dalam 20% ether selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.
3. Struktur Antigenik
Infeksi dengan virus campak merangsang pembetukkan neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan haemagglutinine inhibition antibody. Imunoglobulin kelas IgM dan IgG muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi sekitar 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur, sehingga IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi protektif dapat terbentuk dengan penyuntikkan antigen hemagglutinin murni.

EPIDEMIOLOGI
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Usia puncak insidens penyakit ini adalah umur 5-10 tahun, di negara yang belum berkembang insidens tertinggi pada umur 2 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.
Kejadian luar biasa campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama karena akses pelayanan kesehatan yang sulit, khususnya dalam program imunisasi. Di daerah transmigrasi sering terjadi terjadi wabah dengan angka kematian yang tinggi. Daerah urban yang padat dan kumuh merupakan daerah rawan dan sumber kejadian luar biasa terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak.

PATOGENESIS
Manusia adalah satu-satunya inang asli untuk virus campak4. Penularan campak terjadi secara droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Infeksi dimulai di mukosa hidung/faring. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Virus kemudian bermultiplikasi dengan sangat perlahan dan disitu mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular (RES) seperti limpa, dimana virus menyerang limfosit. Virus campak dapat bereplikasi dalam limfosit tertentu yang membantu penyebaran ke seluruh tubuh4. 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi terbentuk yaitu ketika ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah (viremia primer) dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, dan usus. Pada hari 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva, mengalami nekrosis pada satu sampai dua lapisan. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke dalam pembuluh darah (viremia sekunder) dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem pernafasan diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. 

PATOFISIOLOGI
Pada stadium prodromal terdapat hiperplasia jaringan limfe. Distribusi yang luas dari giant cell multinuklear (sel retikuloendotel Warthin-Finkeldey) akibat fusi-fusi sel dan inklusi intranuklear terlihat dalam jaringan limfoid di seluruh tubuh (limfoid, tonsil, terutama appendix). Keadaan tersebut terjadi selama masa inkubasi, biasanya 9-11 hari4. Sebagai reaksi terhadap virus, terjadi proses peradangan epitel saluran pernafasan, konjungtiva dan kulit yang mana terbentuk eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Respon imun ini diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, merupakan tanda pasti untuk menegakkan diagnosis1. Ruam pada kulit terjadi sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, sebagai hasil interaksi sel T imun dan sel yang terinfeksi virus dalam pembuluh darah kecil dan berlangsung sekitar 1 minggu. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel T 4. Pada kulit, reaksi terutama terjadi di sekitar kelenjar sebacea dan folikel-folikel rambut. Fase ini berlangsung 2-4 hari, virus terdapat dalam air mata, sekresi hidung dan tenggorokan, urin, serta darah. Pada stadium prodromal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak yaitu bercak koplik, conjungtivitis, coryza, dan cough (tanda 3C), disertai demam ringan sampai sedang. Bercak koplik adalah bintik-bintik berwarna putih kelabu, berukuran sebesar butir pasir dikelilingi areola berwarna kemerahan, kadang-kadang bercak tersebut bersifat hemoragis. Selain itu cenderung timbul berhadapan dengan gigi molar bawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan mukosa pipi. Meski jarang, bercak dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karunkula lakrimalis. Bercak koplik terdiri atas eksudat serosa dan proliferasi sel-sel endotel, serupa dengan yang terdapat pada lesi-lesi kulit. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Ketika menghilang pada mukosa penderita masih ditemukan bercak diskolorisasi mukosa kemerahan.Kelenjar limfe pada sudut rahang dan daerah servikal posterior sering mengalami pembesaran disertai splenomegali ringan. Limfadenopati mesenterik menyebabkan timbulnya rasa nyeri abdomen. Perubahan patologis campak yang khas pada lapisan mukosa usus buntu mengakibatkan penyumbatan lumen disusul munculnya gejala apendisitis. Perubahan ini cenderung mereda dengan menghilangnya bercak koplik.

2. Fase Erupsi
Ruam makulopapular muncul 14 hari setelah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi. Ruam–ruam kulit biasanya mulai sebagai makula tidak tegas, terdapat pada bagian samping atas leher penderita, di belakang telinga, sepanjang batas rambut dan pada bagian belakang pipi. Setiap lesi berubah menjadi makulopapular bersamaan dengan penyebaran cepat ruam kulit di seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada dalam waktu kurang lebih 24 jam pertama, disertai panas tinggi. Dalam 24 jam berikutnya, lesi-lesi menyebar menutupi punggung, abdomen, seluruh lengan dan paha. Proses menghilangnya ruam kulit berlangsung dari atas ke bawah dengan urutan sesuai proses pemunculannya. Lesi pada wajah mulai menghilang pada hari ke 2-3, yaitu pada saat lesi mencapai kaki. Derajat penyakit berhubungan langsung dengan luas dan penyatuan ruam-ruam tersebut.
3. Fase Konvalesens
Pada fase akhir, ruam menjadi hiperpigmentasi dan kadang-kadang deskuamasi, gejala-gejala lainnya menghilang. 

DIAGNOSIS
Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan konjungtivitis disertai batuk dan demam tinggi pada beberapa hari serta diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan deskuamasi. Jadi diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal.

PENGOBATAN
Ø Supportif :
o Memperbaiki keadaan umum
o Istirahat cukup
o Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi (cukup cairan dan kalori)
o Perawatan kulit dan mata
o Perawatan lain sesuai penyulit yang terjadi
Ø Simptomatik :
o Antipiretik, antitutif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan.
Ø Antibiotik bila ada infeksi bakteri sekunder.
Ø Vitamin A dosis tinggi (rekomendasi WHO dan UNICEF)
§ Usia 6 bln-1 thn : 100.000 unit dosis tunggal p.o
§ Usia >1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o
Dosis tersebut diulangi pada hari ke-2 dan 4 minggu kemudian bila telah didapt tanda defisiensi vitamin A. Apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari.

PENCEGAHAN
1. Imunisasi aktif
Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak hidup yang dilemahkan (tipe Edmonstone B), dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (dalam larutan formalin dicampur dengan garam alumunium). Namun sejak tahun 1967, vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi, oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat1. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dilemahkan berkembang dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strain Moraten (1968). Dosis baku minimal pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular mempunyai efektivitas yang sama.
Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif 2.
2. Imunisasi pasif
Campak dapat dicegah dengan Immune serum globulin (gamma globulin) dengan dosis 0,25 ml/kgBB intramuskuler, maksimal 15 ml dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera mungkin. Perlindungan yang sempurna diindikasikan untuk bayi, anak-anak dengan penyakit kronis, dan para kontak di bangsal rumah sakit serta institusi penampungan anak. Setelah hari ke 7-8 dari masa inkubasi, maka jumlah antibodi yang diberikan harus ditingkatkan untuk mendapatkan derajat perlindungan yang diharapkan.
Kontraindikasi vaksin : reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin, kehamilan, imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresan jangka panjang, infeksi HIV dengan imunosupresi berat.

KESIMPULAN
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat insidensi yang tinggi pada anak-anak. Penularan yang cepat, terutama pada kelompok dengan daya tahan imun rendah, kepadatan yang tinggi, serta kurangnya akses pelayanan kesehatan dan pelaksanaan vaksinasi, terutama di daerah pedesaaan. Kematian pada campak sering kali disebabkan oleh komplikasi-komplikasinya, seperti pneumonia dan ensefalitis. Penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi, karena vaksin campak telah terbukti efektif menurunkan insidensi penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
1. Soegeng Soegijanto. Campak. Dalam : ed. Sumarno S. Poorwo Soedarmo, Herry Garna, Sri Rezeki S. Hadinegoro. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. 2002. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Jakarta. p 125-136.
2. Herry Garna, Alex Chaerulfatah, Azhali MS, Djatnika Setiabudi,. Morbili (Campak, Rubeola, Measles). Dalam : ed. Herry Garna, Heda Melinda D. Nataprawira. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi III. 2005. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD : Bandung. p 234-236.
4. Brooks, Geo F., Butel, Janet S., Morse Stephen A. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi I. Terjemahan. 2005.Salemba Medika : Jakarta
6. Wikipedia. Measles. 2008. (http://en.wikipedia.org/wiki/measles.htm) 10 Maret 2008