Hendrik Daniel Simatupang

Hendrik Daniel Simatupang

Selasa, 26 April 2011

Pengertian Emosi

KONSEP PSIKOLOGI TENTANG EMOSI

Emosi adalah kompleksitas keadaan pikiran seseorang sebagai akibat dari interaksi dirinya dengan lingkungan maupun interaksi dalam dirinya sendiri berupa reaksi kimia yang terjadi dalam tubuhnya. Emosi yang terjadi dalam diri manusia melibatkan faktor-faktor seperti reaksi fisiologis, perilaku ekspresif, maupun pengalaman kesadaran. Emosi berkaitan dan berhubungan erat dengan kepribadian, motivasi, suasana hati, maupun disposisi. Kata emosi yang dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai “emotion” adalah turunan dari kata ”émouvoir” dalam bahasa prancis.
Emosi merupakan faktor yang dapat membuat seorang manusia mengalami kesenangan atau kesedihan. Karena emosi adalah suatu reaksi seseorang terhadap apa yang terjadi terhadap dirinya.

Manusia mempercayai bahwa tingkahlaku mereka dibangun tidak saja atsa perbuatan-perbuatan yang sifatnya emosional, akan tetapi juga dari bekerjanya faktor-faktor intelek yang menyebabkan adanya pengawasan yang seksama terhadap sambutan-sambutan dari stimuli-stimuli yang emosional. Benarlah bahwa banyak sambutan yang dilakukan oleh manusia diarahkan pada berpikir dan memutuskan secara obyektif; namun demikian ada waktu-waktunya dalam kehidupan hampir semua orang di mana dorongan dan nafsu yang bersifat emosional itu hampir sepenuhya mempengaruhi cara kita berpikir dan bertingkah laku. Juga sering sekali tingkah laku kita sangat dikendalikan oleh perhatian dan keinginan yang datangnya tiba-tiba, di mana jika ada sangat sedikit perhatian diberikan untuk mem beri alsan lebih kuat dan lebih jauh mengantarkan terpenuhinya hasil dari kegiatan itu. Namun emosi banyak memberi pengaruh pada tingkah laku, tetapi tiadalah merupakan penentukan (Sic!) tunggal terhadapnya.
Reaksi-reaksi emosi patut mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam setiap mempercakapkan problema perkembangan manusia, khususnya hal ini untuk anak-anak dan adolesen. Jika kita beranggapan, bahwa emosi adalah dasar yang mendorong kita berbuat, maka sewajarnyalah harus dimengerti arti dan asalnya sebagaimana kita menyaksikan emosi itu dapat dibawa dalam penguasaan pengawasan agar dapat lebih memberi faedah pada individu dan masyarakat.

PENGERTIAN EMOSI
Istilah emosi tidak dapat dipergunakan untuk mengganti isitilah-istilah lain seperti perasaan, motif, dorongan, nafsu, dan kehendak. Suatu definisi yang pendek dalam hal ini mungkin sangat membantu pada kita. Emosi meliputi keadan yang merupakan sumber penggerak atau pembangkit semangat manusia berbuat. Hal itu meliputi gangguan-nggangguan alat-alat dalam tubuh secara luas dan termasuk berbagai ragam penyesuaian perasaan, berbagai tingkat kepuasan atau kekacauan-kekacauan pikiran. Perasan hanyalah suatu tingkat pengalaman emosi yang sederhana. Perbedaan besar di antara keduanya terletak dalam hal bahwa perasaan adalah lebih terbatas. Perasaan selalu menyesuaikan dengan semua pengalaman-pengalaman manusia, sedangkan emosi lebih dalam dan merupakan tanda reaksi alat-alat dalam yang lebih keras. Para sarjana psikologi dan fisiologi sependapat bahwa emosi meliputi perasaan, dorongan-dorongan dan reaksi-reaksi fisiologis. Dorongan-dorongan atau desakan-desakan dari dalam dapat terjadi pada diri seseorang atau terhadap orang lain dalam berbagai kombinasi dan tingkatan.
Didalam memberi definisi emosi, perhatian harus diarahkan pada seluruh kegiatan badan, termasuk tingkah laku luar, yang menyertai setiap perasaan dan dorongan. Dengan demikian emosi adalah suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah laku luar. Sesuai dengan definisi ini, maka emosi adalah dinamika terhadap penyesuaian di dalam diri individu yang bekerja untuk mendatangkan rasa puas, perlindungan dan kesejahteraan orang seseorang.

TIMBULNYA EMOSI
Stimuli Pembangkit Emosi. Untuk melakukan pengamatan suatu sitmuli dibutuhkan adanya peristiwa emosional sebagai pangkal tolak. Dengan demikian emosi bukan bukannya peristiwa keseluruhan sampai timbulnya perasaan dan dorongan serta terjadinya sambutan-sambutan fisis dan fisiologis lewat pekerjaan susunan syaraf yang berlangsung secara otomatis. Untuk dapat terjadi peristiwa timbulnya emosi, stimuli harus dihubungkan dengan minat dan kehendak. Sebagai contoh, jika sesorang mengarahkan minatnya terhadap seorang individu, benda atau suatu situasi, maka akan terjadilah kemungkinan reaksi potensi emosi sehingga ia distimuli oleh hal-hal tersebut di mana ia menruh perhatian atasnya .
Suatu stimuli yang membangkitkan satu emosi tidak dapat menimbulkan emosi yang lain dalam waktu yang sama. Tetapi stimuli yang satu itu dapat saja membangkitkan emosi-emosiyang berbeda dan bahkan berlawanan pada waktu-waktu yang berlainan. Namun tidaklah merupakan suatu keharusan seiap stimuli yang diterima oleh individu akan mengakibatkan reaksi yang sepadan dengan pengaruh yang dihasilkannya. Pukulan dapat membangkitkan emosi dalam bentuk afeksi untuk suatu ketika; pada saat yang lain dapat saja menstimuli berupa rasa takut, marah atau benci.
Intensitas dan lamanya sambutan-sambutan emosional ditentukan oleh keadaan fisik dan mental individu serta ditentukan pula oleh keras dan kuatnya stimuli yang menyebabkannya. Emosi itu rupa-rupanya cenderng berlangsung lebih lama sepanjang stimuli itu ada dan berfungsi aktif. Hilangnya stimuli berarti hapus atau lenyapnya emosi. Anggapan ini menunjukkan betapa cepatnya perubahanperimbangan yang mungkin terjadi pada reaksi emosional. Juga hal ini membantu dalam menerangkan mengapa seorang individu dapat memiliki sifat emosional yang berupa kebencian pada suatu saat, sedang dengan stimuli yang sama dapat mengalami afeksi yang kuat pada saat berikutnya dan demikianlah seterusnya.
Para guru telah banyak mempelajari bagaimana menghadirkan stimuli baru atau mengarahkan perhatian murid-murid mereka pada kegiatan yang menarik jika terjadi situasi yang lesu dalam kelas. Sama halnya para ibu juga sudah sejak lama belajar dan berbuat bagaimana harus meredakan dalam waktu yang secepat-cepatnya tangisan atau ketakutan bayi yang dalam arti yang mudah dapat diberi makna memberi perubahan stimuli. Maka diberikan kepdanya sikap kasih sayang atau permainan yang baru, sehingga anak tak lama kemudian menjadi reda dari kegundahannya dan hilang lenyap segala tingkah laku emosional yang tak diinginkan.


Emosi
Selama ini kajian-kajian tentang belajar kurang memperhatikan peran dan pengaruh emosi pada proses dan hasil belajar yang dicapai seseorang. Tetapi, sejak orang mulai memperhatikan peran besar otak dalam segala bentuk perilaku manusia, maka emosi mulai jadi perhatian, termasuk peranannya dalam meningkstkan hasil belajar. Emosi tidak lagi dipandang sebagai penghambat dalam kehidupan sebagaimana pandangan konvesional, melainkan sebagai sumber kecerdasan, kepekaan, dan berperan dalam menghidupkan perkembangan serta penalaran yang baik. Bahkan saat ini disadari bahwa untuk mencapai keberhasilan belajar, maka proses belajar yang terjadi haruslah menyenangkan.

Pengertian Emosi

Definisi emosi dirumuskan secara bervariasi oleh para psikolog, dengan orientasi teoritis yang berbeda-beda, antara lain sebagai berikut :

William James (dalam DR. Nyayu Khodijah) mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh.

Goleman, 1999 (dalam DR. Nyayu Khodijah) mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak..

Kleinginna & Kleinginna (dalam DR. Nyayu Khodijah) mencatat ada 92 definisi yang berbeda tentang emosi., Namun disepakati bahwa keadaan emosional adalah suatu reaksi kompleks yang melibatkan kegiatan dan perubahan yang mendalam serta dibarengi dengan perasaan yang kuat.

Teori-Teori Emosi

Walgito, 1997 (dalam DR. Nyayu Khodijah), mengemukakan tiga teori emosi, yaitu :
Ø  Teori Sentral,
Menurut teori ini, gejala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu; jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam kejasmaniannya. Contohnya : orang menangis karena merasa sedih

Ø  Teori Periferal
Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli berasal dari Amerika Serikat bernama William James (1842-1910). Menurut teori ini justru sebaliknya, gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi malahan emosi yang dialami oleh individu merupakan akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori ini, orang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya ia susah karena menangis.

Ø  Teori Kepribadian
Menurut teori ini, emosi ini merupakan suatu aktifitas pribadi, dimana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah. Karena itu, maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian. Misalnya apa yang dikemukakan oleh J. Linchoten.

Ø  Fungsi Emosi
Bagi manusia, emosi tidak hanya berfungsi untuk Survival atau sekedar untuk mempertahankan hidup, seperti pada hewan. Akan tetapi, emosi juga berfungsi sebagai Energizer atau pembangkit energi yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, emosi juga merupakan Messenger atau pembawa pesan (Martin dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006)

Survival, yaitu sebagai sarana untuk mempertahankan hidup. Emosi memberikan kekuatan pada manusia untuk membeda dan mempertahankan diri terhadap adanya gangguan atau rintangan. Adanya perasaan cinta, sayang, cemburu, marah, atau benci, membuat manusia dapat menikmati hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain.

Energizer, yaitu sebagai pembangkit energi. Emosi dapat memberikan kita semangat dalam bekerja bahkan juga semangat untuk hidup. Contohnya : perasaan cinta dan sayang. Namun, emosi juga dapat memberikan dampak negatif yang membuat kita merasakan hari-hari yang suram dan nyaris tidak ada semangat untuk hidup.Contohnya : perasaan sedih dan benci.

Messenger, yaitu sebagai pembawa pesan. Emosi memberitahu kita bagaimana keadaan orang-orang yang berada disekitar kita, terutama orang-orang yang kita cintai dan sayangi, sehingga kita dapat memahami dan melakukan sesuatu yang tepat dengan kondisi tersebut. Bayangkan jika tidak ada emosi, kita tidak tahu bahwa disekitar kita ada orang yang sedih karena sesuatu hal yang terjadi dalam keadaan seperti itu mungkin kita akan tertawa-tawa bahagia sehingga membuat seseorang yang sedang bersedih merasa bahwa kita bersikap empati terhadapnya.

Jenis dan Pengelompokkan Emosi

Secara garis besar emosi manusia dibedakan dalam dua bagian yaitu
Ø  Emosi positif (emosi yang menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, diataranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum dan sebagainya.

Ø  Emosi negatif (emosi yang tidak menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya.

Pengaruh Emosi pada belajar
Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar (Meier dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar. Menurut Meier, 2002 (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006) kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya pemahaman dan nilai yang membahagiakan pada diri si pembelajar. Selain itu, dapat juga dilakukan pengembangan kecerdasan emosi pada siswa. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama dalam berhubungan dengan orang lain.




















psikologi umum

PEMBAHASAN
A.     Pengertian Emosi
Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, “gangguan keseimbangan”, “response kuat dan tak beraturan terhadap stimulus (keadaan)”. Ada satu hal yang sama yaitu bahwa pada setiap definisi tersebut keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari keadaan yang normal. Keadaan yang normal adalah keadaan yang tenang atau keadaan seimbang fisik dan sosial. Meskipun keadaan yang tenang itu dianggap sebagai keadaan yang normal, namun dalam kehidupan modern keadaan emosional itu lebih mewarnai sifat seseorang. Dalam tempo kehidupan modern, emosi itu perlu sekali difahami karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkah laku, kepribadian, dan kesehatan.
Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih,senang, terharu, dsb, bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau, dsb. Dengan perkataan lain perasaan disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar, dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada ndividu yang bersangkutan. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari itu, disebut warna efektif.
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kwalitatif yang tidak jelas batasannya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.

B.     Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi
Selama emosi berlangsung banyak terjadi perubahan pada tubuh kita. Perubahan ini membantu menjelaskan berbagai reaksi yang ditunjukkan oleh orang yang sedang mengalami emosi.
Terutama pada emosi yang kuat, sering kali terjadi juga perubahan -perubahan pada tubuh kita antara lain:
1.      Reaksi elektris pada kulit              : meningkat bila terpesona
2.      Peredaran darah                            : bertambah cepat bila marah
3.      Denyut jantung                             : bertambah cepat bila terkejut
4.      Pernafasan                                     : bernafas panjang kalau kecewa
5.      Pupil mata                                     : membesar bila sakit atau marah
6.      Liur                                               : mengering kalau takut atau tegang
7.      Bulu roma                                     : berdiri kalau takut
8.      Otot                                               : menegang atau bergetar kalau tegang dan takut
9.      Komposisi darah                           : komposisi darah akan ikut berubah dalam         keadaan    emosionil       karena kelenjar-kelenjar lebih efektif

C.     Pertumbuhan emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis dan meronta. Pada keadaan tenang, bayi itu tidak menunjukkan perbuatan apapun, jadi emosnya netral. Makin besar anak itu, makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosi makin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi sampai usia satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensionil dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga ekspresi emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang-orang lain dalam kebudayaan yang sama. Ekspresi-ekspresi itu antara lain : Menjulurkan lidah kalau keheranan, bertepuk tangan kalau kuatir, menggaruk telinga dan pipi kalau bahagia. Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah obyek-obyek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Sebagai contoh: seorang anak yang tidak pernah di takut-takuti ditempat gelap, tidak akan takut pada tempat yang gelap.

D.     Menggolongkan Emosi
Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yangsejenis kedalam suatu golongan atau satu tipe sangat sukar dilakukan karena hal-hal berikut :
1.      Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif, dan dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
2.      Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya: kalau marah ia gemetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari.
3.      Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangannya, bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
4.      Pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif, sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaruh dari lingkungan.

E.     3 Dimensi perasaan menurut Wundt
Menurut W.Wundt perasaan tidak hanya dapat dialami oleh individu sebagai perasaan senang atau tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dari dimensi lain. 3 dimensi itu adalah :
1.      Perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
2.      Perasaan itu dapat dialami sebagai suatu hal yang “excited” atau sebagai “innert feeling”, sesuatu perasaan yang dialami oleh individu itu dapat disertai tingkah laku perbuatan yang menampak, misalnya orang menari-nari karena gembira sekali sehabis menerima uang banyak atau lulus ujian, tetapi ada pula sekalipun ia menerima uang banyak atau lulus ujian dan mengalami sesuatu perasaan, tetapi ia tetap tenang saja tanpa adanya perbuatan-perbuatan atau tingkah laku yang menampak seperti pada orang yang pertama.
3.      “Expectancy” dan “release feeling”. Sesuatu perasaan dapat dialami oleh individu sebagai sesuatu yang masih dalam pengharapan, tetapi ada pula perasaan yang dialami individu karena peristiwa atau keadaan itu telah nyata terjadi atau telah “release”.[1]
Sehubungan dengan soal waktu dan perasaan, Stern juga membedakan perasaan dalam 3 golongan yaitu :
1.      Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaan-keadaan sekarang yang dihadapi. Hal ini berhubungan dengna situasi yang aktual.
2.      Perasaan-perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan ke depan dalam  kejadian-kejadian yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan
3.      Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-waktu yang telah lalu, atau melihat ke belakang yang telah terjadi. misalnya, orang merasa sedih, karena teringat pada waktu jaman ke-emasannya beberapa tahun yang lampau-lampau.[2]

F.      Pola Emosional yang Lazim
1.      Takut
Takut adalah perasaan yang sangat mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim dari takut adalah takut yang pathologis, yang disebut fobia. Fobia adalah perasaan takut terhadap hal-hal tertentu yang demikian kuatnya, meskipun tidak ada alasan yang nyata, misalnya takut terhadap tempat yang sempit dan tertutup ( claustrophobia), takut terhadap ketinggian atau takut berada di tempat-tempat yang tinggi (acrophobia), takut terhadap kerumunan orang atau tempat-tempat ramai (achlophobia)
2.      Kuatir
Khawatir atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempunyai objek yang jelas atau tidak ada objeknya samasekali. Kekuatiran menyebabkan rasa tidak senang, gelisah, tegang, tidak tenang, tidak aman. Kekuatiran seseorang untuk melanggar norma masyarakat adalah suatu bentuk kekuatiran yang umum pada tiap- tiap orang. Kekuatiran ini justru positif karena selalu bersikap hati-hati dan berusaha menyesuaikan diri dengan norma masyarakat.
3.      Cemburu
Kecemburuan adalah bentuk khusus dari kekuatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang. Seseorang yang cemburu selalu mempunyai sikap benci terhadap saingannya.
4.      Gembira
Gembira adalah ekpresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiraan itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain di sekitar orang yang sedang gembira tersebut.
5.      Marah
Sumber utama dari kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian, ketegangan yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan-ketegangan itu individu yang bersangkutan menjadi marah.

Rabu, 20 April 2011

TENSES

Present Tense
(Waktu Kebiasaan)

Definisi
Ø  Tenses yang digunakan untuk menyatakan kebiasaan / kegiatan sehari-hari,kenyataan yang ada di Dunia.
Pattern (Struktur Pola Kalimat)

Ø   Kalimat positif
~ S + V1 + s/es (untuk he,she,it) + O
Example :
 He reads a newspaper.

he/she/it
Is

He is clever

i
am
Adjective/adverb/noun
I am in the bank
Nominal sentence
They/we/you
are

We are students


he/she/it
Verb + s/es
She comes from italy

i
Verb 1
I come from Italy
Verbal  sentence
They/we/you
They come from Italy


Ø  Kalimat negatif
~ S + do/does + not + V1 + O
Example :
 He does not read a neswpaper.
he/she/it
Is
not
Adjective/adverb/noun
He is not clever

i
am
I am not in the bank
Nominal sentence
They/we/you
are
We are not students


he/she/it
does
not
Verb 1
He does not come from italy

i
do
I do not come from italy
verbal sentence
They/we/you
They do not come from italy






Ø  Kalimat Tanya (Interrogative)
~ do/does + S + V1 + O + ?
Example :
Does he read newspaper ?
is
He/she/it
noun
Is he clever?

am
i
adjective
Am i in the bank?
nominal sentence
are
They/you/we
adverb
Are we students?


does
He/she/it
Verb 1
Does she come from italy?

do
i
Do i come italy?
verbal sentence
They/you/we
Do they come from italy?


Ø  Fungsi
1.      Untuk menyatakan kegiatan sehari-hari / kebiasaan sehari-hari.
Ex: Nurses look after patients in the hospital.

2.      Untuk menyatakan kebenaran secara umum, yang ada di dalam alam.
Ex: the earth goes round the sun.

3.      Untuk menyatakan kebiasaan sehari-hari.
Ex: Sinta studies every evening.

4.      Untuk menjelaskan suatu kegiatan yang dilakukan pada saat masa sekarang ( demonstrasi, komentar suatu pertandingan, babak-babak drama, dll.
Ex: At first, take a spoonful of sugar, put into a glass and then...


Ø  AdVerb
Usually (biasanya),Always (selalu),Seldom (jarang),
Everyday (setiap hari),Sometimes (kadand-kadang),
Twice a day ( dua kali sehari),Often (Sering),
Never (tidak pernah).
Example:

1.      She takes a bath twice a day.
           
2.      The sun rises in the east.

Present Continous Tense

Definisi
Ø  Tenses yang digunakan untuk menyatakan kegiatan yang sedang berlangsung.
Pattern (Struktur pola kalimat)
Ø  Kalimat Positive  ( + )
~ S + is,am,are + V ing + O
Example :
She is studying english.
Ø  Kalimat Negative ( - )
~S + is,am,are  + not + V ing + O
Example:
She is not studying english.
Ø  Kalimat  Interrogative ( ? )
~Is,am,are  + S + V ing + O + ?
Example : Is she studying english?
Fungsi
Ø  Untuk menyatakan aktivitas atau kegiatan yang sedang berlangsung di masa sekarang.
Ex: Listen! Someone is knocking on the door.
Ø  Untuk menyatakan sesuatu yang dilakukan sekarang, tetapi kegiatan tersebut tidak benar-benar sedang dilakukan
Ex: Have you heard about Tom?. He is building a new hotel.
Ø  Untuk menyatakan suatu kegiatan yang dilakukan selama suatu periode waktu.
Ex: They are not doing any exercises this season.
Ø  Untuk menyatakan kegiatan yang pasti akan dilakukan diwaktu yang akan datang (future).
ex: Are they living for Jakarta tomorrow?

AdVerb
Ø  Now
Ø  At this moment
Example :
I’m eating fried rice now
My mother is cooking rice at this moment


Past Tense
( Waktu Lampau )

Definisi
Ø  Tenses yang digunakan untuk menyatakan kegiatan di masa lampau.
Pattern (struktur pola kalimat )
Ø  Nominal Sentence
Kalimat yang tidak mengandung kata kerja.

·      Kalimat Positive
He/she/it/i
was
Noun/adjective/adverb
He was a shopkeeper
We/you/they
were

·      Kalimat Negative
He/she/it/i
was
Not
Noun/adjective/adverb
He was a shopkeeper
We/you/they
were

·      Kalimat Interrogative
was
He/she/it/i
Noun/adjective/adverb
Were they in the living room?
were
We/you/they

Ø  Verbal Sentence
Kalimat yang mengandung kata kerja

·      Kalimat Positive

He/she/it/i/we/you/they
Verb 2
The girl looked for you

·      Kalimat Negative

He/she/it/i/we/you/they
Did
Not
Verb 1
The girl did not look for you

·      Kalimat Interrogative
Did
He/she/it/i/we/you/they
Verb 1
Did the girl look for you?

Fungsi
Ø  Untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan di masa lampau
Ex: Tom and Tim played tennis yesterday

AdVerb
yesterday kemarin,this morning tadi pagi,last night tadi malam,last week minggu lalu,2 days a go 2 hari yang lalu,this afternoon tadi sore
Example
I did my home work last night.


Present Future Tense
( Waktu yang Akan Datang )

Definisi
Tenses yang digunakan untuk menyatakan kegiatan yang terjadi di masa yang akan datang
Present future tense dibagi menjadi 2 yaitu :
1)      Present Future Tense (to be going to)
2)      Present Future Tense (shall/will)

Pattern
1)      Present Future Tense (to be going to)

·      Kalimat Positive
He/she/it
is
Going to
Be+noun/adjective/adverb
i
am
We/you/they
are
Verb 1

·      Kalimat negatif
He/she/it
Is
Not
Going to
Be+noun+adjective/adverb
I
am
We/you/they
are
Verb 1

·      Kalimat Interrogative

Is
He/she/it
Going to
Be+noun/adjective/adverb
Am
I
Are
We/you/they
Verb 1

Fungsi
1.      Untuk merencanakan sesuatu yang akan dilakukan diwaktu yang akan datang
Ex: Tomorrow is my day off. I am goaing to visit my grand parents.
2.      Untuk menyatakan sesuatu yang pasti terjadi
Ex: He feels terrible. He is going to be sick


Pattern
2)      Present Future Tense (shall/will)

·      Kalimat Positive
I/we
shall
Be+noun/adjective/adverb
He/she/it/they/we/you
will
Verb 1

·      Kalimat Negative
I/we
Shall
Not
Be+noun/adjective/adverb
He/she/it
Will
They/we/you
Verb 1

·      Kalimat Interogative
Shall
I/we
Be+noun/adjective/adverb
will
He/she/it/you/we/they
Verb 1

Fungsi
Ø  Untuk menyatakan kegiatan yang akan kita lakukan diwaktu yang akan datang secara spontan (tidak direncanakan sebelumnya)
Ex:
A: Did you phone ani?
B: oh.., I for got, i will do it now.
Ø  Untuk menyatakan pendapat atau praduga atau perkiraan atau ramalan dan janji
Ex: I think i shall get nine for my test


Present Perfect Tense
( Waktu yang Telah Berlangsung )

Defenisi
Ø  Tenses yang digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan yang telah selesai dilaksanakan sekarang.
Pattern
1)      Nominal Sentense
·      Kalimat Positive

He/she/it
Has
been
Adjective/adverb/noun
He has been here
i/we/you/they
have
They have been here

·      Kalimat Negative

He/she/it
Has
Not
been
Adjective/adverb/noun
He has not been here
i/we/you/they
have
They have not been here



·      Kalimat Interrogative

Has
He/she/it
been
Adjective/adverb/noun
Has he been here?
have
i/we/you/they
Have They been here?


2)      Verbal Sentence
·      Kalimat Positive

He/she/it
Has
Verb 3
She has done her home work
i/we/you/they
have
We have done our home work

·      Kalimat Negative

He/she/it
Has
Not
Verb 3
She has not done her home work
i/we/you/they
have
We have not done our home work

·      Kalimat Interrogative

Has
He/she/it
Verb 3
Has she done her home work?
Have
i/we/you/they
Have we done our home work?

Fungsi
Ø  Untuk menyatakan bahwa kita telah atau sudah melakukan sesuatu
Ex: I have lost my key
Ø  Untuk memberikan informasi atau mengumumkan sesuatu yang baru saja terjadi, biasanya ditandai dengan kata just/already.
Ex: Have you just arrived?
Ø  Untuk menyatakan sesuatu yang masih terjadi hingga sekarang
Ex: Jane has been ill for a week.
Ø  Sering digunakan dalam korespondensi, surat kabar atau siaran.
Ex: I haven’t recived your latter.